SEJARAH TERIPANG INDONESIA | TIMUN LAUT | Sea Cucumber

ImageImageImage

Pada kali ini saya akan membahas tentang sejarah perjalanan teripang yang ada di Indonesia, untuk lebih jelasnya mari kita langsung saja ke pembahasannya.

Apakah anda tahu tentang teripang?

Singkat saja, Teripang itu merupakan  hewan laut yang bergerak relative lambat bro.. karena teripang sendiri tidak mempunyai kaki dan teripang termasuk kedalam fillum Mollusca dan termasuk dari class Holothuroidea. Teripang disebut juga sebagai timun laut (Sea cucumber) karena ia memiliki bentuk seperti timun dan hidup di laut. Jenis teripang yang ada di dunia jumlahnya lebih dari 1200 jenis.  Habitat dari teripang atau timun laut ini berada menempel pada perairan laut dangkal, pesisir pantai, maupun daerah karang dan bebatuan yang dekat dengan pantai. Manfaat dari hewan laut ini juga sangat banyak sob, mulai dari diolah sebagai makanan maupun dapat pula dijadikan bahan obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, karena didalam tubuhnya mengandung banyak protein dan rendah lemak.

Kosakata trepang

Teripang atau trepang  berasal dari kosakata bahasa Indonesia, dan sejajar dengan kata beche- de- mer (lafal Prancis). Dua istilah ini merupakan istilah yang popular di pasar Internasional. Negara jepang dan  Cina merupakan sebagai konsumen terbesar trepang ini, dan memiliki istilah sendiri yaitu iriko dan hai- som (Morgan dan Archer, 1999). Istilah ‘trepang’ di pasar internasional berasal dari kata teripang yang digunakan oleh nelayan Indonesia (Fox, 2000; Morgan and Archer 1999; Connand 1990; Connand and Byrne, 1993).

Awal mula perjalanan teripang di Indonesia ini tak lain dan tak bukan adalah karena adanya para nelayan sob… hehe  catatan sejarah menunjukan perdagangan teripang sudah lebih dari 300 tahun. PUBLIKASI ILMIAH pertama tentang timun laut yaitu oleh SELENKA (1867) yang spesimennya dikumpulkan dari Ambon. Sebelumnya expedisi besar Rhumphius melakukan pengumpulan biota dari perairan Maluku pada tahun 1705 (Massin, 1996).

Pada abad 13-17, Nusantara merupakan Negara maritime yang menjadi salah satu pusat perdagangan dunia, system perkotaannya terletak di pesisir utara jawa. Hal ini yang membuat kemudahan masyarakat nelayan Nusantara  pada zaman itu untuk melakukan kontak dagang hasil laut dengan dunia internasional. Salah satunya adalah dengan bangsa Cina pada abad 16-17 yang diduga munculnya perikanan teripang Indonesia (Stacy 1999; Ham 2002).

Didaerah Selatan nelayan nusantara berburu teripang ke perairan Australia, sejak awal abad ke 17. Wajar jika Indonesia merupakan termasuk Negara pengekspor teripang tertua. Saat Belanda mengalahkan Makassar di Buton tahun 1667, dan membuat batasan perdagangan bagi orang Makassar, banyak diantara mereka yang melarikan diri ke teluk Carpentaria, Australia dan kembali pulang dengan memuat teripang. Periode inilah yang menjadi perkiraan awal mula industri perikanan teripang di Indonesia (McKnight, 1967). Bukti lainnya yang mendukung fakta ini ada pada catatan Flinder dan Pobasso 1803, yaitu tentang nelayan Makassar yang sudah sejak 20 tahun sebelumnya  berlayar mencari teripang ke pulau-pulau sekitar terluar jawa sampai ke daerah kering yang terletak di selatan Pulau Rote dan Pantai Kimberly, Australia Barat (Clark, 2000; McKnight, 1976). Peninggalan tahun 1623 yang ditemukan di Jakarta (waktu itu bernama Batavia) berupa wadah-wadah teripang dari Cina, ikut mendukung peninggalan sejarah perikanan teripang Indonesia (Stacy, 2001; Dwyer, 2001; Campbell dan Wilson, 1993).

Teripang menjadi jembatan dua kebudayaan antara Aborigin di Australia dan Makassar di Indonesia. Bukti pelayaran orang Makassar ke pantai barat laut dan utara Australia, banyak terdokumentasi dalam   lukisan-lukisan tradisional bangsa Aborigin yang terdapat di dinding-dinding goa. Peninggalan sejarah yang lainnya adalah model kano (canoe), dan penggunaan kosakata ‘balanda’ untuk orang kulit putih. Selain itu, ditemukan juga dokumen peraturan pajak dan perizinan tahun 1882 untuk nelayan Makassar yang mengambil teripang di perairan Northern Territory. Suku Makassar diakui sebagai penemu Pulau Pasir (yang kemudian diberi nama Ashmore Reefs) yaitu sekitar tahun 1728, bukan Samuel Ashmore yang berlayar mencapai daerah tersebut pada tahun 1811 (Bannet, 2001; Clark, 2000; McKnight, 1976; Fox, 1992; Stacy, 2001).

Perburuan teripang oleh nelayan Nusantara terus berlanjut hingga sekarang terutama oleh suku Bajo, Makassar, Bugis, Buton, dan Madura, dengan daerah perburuan yang terus bertambah sempit. Teripang bersama dengan sirip hiu dan penyu diekspor ke Cina. Awal abad 18, bangsa Eropa memberi batasan perdagangan bagi bangsa Cina, termasuk mengadakan transaksi di timur Indonesia, hal ini mendorong nelayan membawa dagangan yang berupa produk laut, termasuk teripang ke Singapur dan Kalimantan utara. Nelayan Bugis menjadi salah satu yang mencatat sejarah dalam perdagangan ini. Tahun 1830 misalnya, 180 perahu Bugis mendarat di Singapura membawa hasil laut dari perairan timur Indonesia. Namun demikian, Fox(2000), percaya bahwa teripang, sirip ikan hiu dan penyu sudah menjadi produk perdagangan bagi suku Makassar, Bugis, Bajo dan Buton sejak lebih dari 500 tahun yang lalu. Chen (2003), memaparkan kembali informasi dari hasil penelitian terdahulu, bahwa sejak dari awal sejarah perikanannya, teripang dikumpulkan untuk mensuplai kebutuhan bangsa Cina. Di Cina sendiri, sebagai Negara konsumen terbesar hingga saat ini, pengenalan teripang dimulai sejak Dinasti Ming (1368-1644 BC).

 

Teripang tertulis di buku medis tradisional sebagai tonic dan obat tradisional, antara lain mengandung banyak protein dan rendah lemak. Diramu dengan komponen yang lain, teripang dipakai sebagai obat untuk memelihara kesehatan darah, penyembuh penyakit ginjal dan sistem reproduksi. Melihat sejarahnya, dimana istilah teripang sudah dipakai sejak lebih dari 3 abad yang lalu, mungkin bisa dikatakan bahwa teripang yang sekarang ada di perairan kita, juga merupakan hewan asli (indigenous species) Indonesia. Selain tidak memiliki pola migrasi dan hidup sebagai hewan bentik di berbagai ekosistem laut dangkal, dengan pergerakan kurang dari 300 cm/hari (Hamel et al., 2001), jenis-jenis teripang tidak pernah dilaporkan diintroduksi ke perairan Indonesia.

 

Bisa dimengerti karena memang bentuknya yang tampak tidak terlalu indah, dan walaupun harganya mahal, namun sifat-sifat alamiah kelompok teripang bisa jadi menyulitkan transportasinya. Jika ada gangguan, beberapa jenis teripang mengeluarkan tubulus Cuvier yang sangat mengganggu karena bergetah. Jika gangguan berlanjut, maka organ dalamnya didorong keluar tubuh (evisceration). Kulit teripang juga mudah terluka jika terjadi gesekan. Luka ini mudah terinfeksi, dan menular ke individu yang lain.

Nah .. kawan-kawan sekian dulu yah.. bila ada kekurangan saya mohon maaf, penulis mengharapkan saran dan kritiknya, terima kasih.

 

DAFTAR PUSTAKA : 

 

Purwati, Pradina. 2005. “Teripang Indonesia : Komposisi Jenis dan Sejarah Perikanan”. Jurnal Oseana. Vol. XXX. No.2 Hal 11-18.

 

Conand, C. 1990. Fisheries resources of Pacific Island countries. Part 2 : Holothurians. FAO Fish. Tech. Paper 272.2. Rome : FAO 143 pp.

 

Dwyer, D. 2001. Borders and Bounders from ref fishing to refugees : the changing role of Indonesia sailors and their perahu at Ashmore reef, north Australia. Presented in workshop on Indonesia fishing in North Australian waters : Questions of access and utilization.Center for Southeast Asian Studies, NTU. 10 pp.

 

Fox, J.J. 1992. A report on eastern Indonesian fishermen in Darwin. Illegal entry. Occasional Paper Series 1. Centre for Southeast Asian Studies, NTU. 13-24.

 

Ham, O.H. 2002. Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong. Refleksi Historis Nusantara. Penerbit Buku Kompas, Jakarta. 79-89.

 

Hamel, J.F.; C. Conand; D.L. Pawson and Annie Mercier 2001. The sea cucumber Holothuria scabra (Holothuroidea : Echinodermata) : its biology and exploitation as Beche-de-mer. In : Advances in Marine Biology, IV. Eds. A.J. Southward, P.A. Tyler, C.M. Young and A.A. Fuiman. Academic Press. Tokyo : 131- 219.

 

Bannett, J. 2001. Present day identity in a historical context, an observation on the historical and cultural context of eastern Indonesian fishermen. Paper in workshop on Indonesian fishing in North Australian waters : questions of access and utilization. 4pp.

 

Campbell, B.C. and BU V.E. WILSON 1993. The politics of exclusion, Indonesian fishing in the Australian fishing Zone. Indian Ocean Centre for Peace Studies Monograph No.5 : 221 pp.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s